Na’udzubillahi min dzalik. Di bawah ini ada sedikit uraian sebuah hadits yang kami ulas bersama Ust. Subhi pada
hari Jum’at (08/04/11) lalu.
عن عبد الله بن عمر-
رضي الله عنه- قال: "قال رسول الله- صلى الله عليه و سلم- : "المرأ
مع من أحب" أخرجه البخاري
Ya, seseorang akan bersama orang yang dicintainya, orang yang
diidolakan olehnya. Hadits di atas menunjukan adanya anjuran untuk menguatkan
cinta kepada Nabi -
صلى الله عليه و سلم-- dan juga umatnya sesuai dengan martabatnya.
Karena hubungan antara orang yang mencintai atau saling mencintai sebagai dalil
atas adanya keterikatan. Jika ada yang menyukai seseorang, maka dia akan
terikat dengannya dan jelas mengidolakannya. Apalagi jika dia tak henti
memikirkan dan membicarakannya sesering mungkin, di dunia saja susah lepas dari
ikatan itu, apalagi nanti di akhirat?
Seseorang itu dilihat dari segala temannya. Perumpamannya seperti
pilihan antara memilih teman seorang tukang minyak wangi atau pandai besi.
Tukang minyak wangi diumpamakan sebagai teman yang baik, walaupun kita tidak
membeli, minimal kita akan mendapat colekannya. Bahkan jika tidak dicolek
sekalipun, minimal kita bisa cium wanginya. Sedangkan pandai besi kita
umpamakan sebagai teman yang membawa pengaruh buruk, bukan hanya bau pengap api
dan arang saja yang bias kita dapat darinya, bahkan jika kita mendekat bisa-bisa
baju kita ikut terbakar. Jadi, akan bersama siapakah kita sekarang dan esok?
Salah seorang sahabat Nabi-
صلى الله عليه و سلم- pernah
menyebutkan deretan nama sahabat yang ia cintai, dan di akhir kalimatnya ia
menambahkan: “aku mencintai mereka dan aku ingin dihisab serta dikumpulkan
bersama mereka walaupun amalanku sangat jauh dari amalan mereka.
Sebagaimana firman Allah تعا
لى :
و من يطع الله
و الرسو ل فأ لئك مع الذين أانعم الله عليهم من النبيين و الصديقين و الشهداء و
الصا لحين و حسن ألئك رفيقا (النساء:69)
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dab Rasul-Nya,
mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah,
yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang yang mati syahid, dan orang-orang
shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Q. S. An-Nisa: 69)
Maka jangan sampai mengaku mencintai Rosul tetapi berbuat
syirik, menyanyikan lagu yang menyanjung Rosul secara berlebihan. Jangan sampai
kita membenci hijab, jenggot, dan makan-minum dengan cara yang tidak
dianjurkan. Dan malah mengidolakan orang-orang kufar. Mari kita pikir sekali
lagi, mana yang lebih sering antara membicarakan Rosululloh- صلى الله عليه و سلم- atau Justin Bieber? Mana yang sering dijadikan bahan obrolan oleh
kita, para Sahabat yang mulia atau Suju?
“Jangan cuma ngaku-ngaku, kita ini umat pengekor yang
sukanya mengikuti tradisi orang kafir yang sedang ngetren,” begitu yang Ust.
Subhi katakan. Melakukan hal yang dilakukan artis yang kita sukai. Mengenakan
pakaian yang dikenakan oleh artis kesukaan kita. Dan membicarakan mereka tanpa
henti. Kalau dipikir-pikir, ngapain juga kita mikirin dan ngomongin artis-artis
yang sudah jelas nggak mikirin dan ngomongin kita, ya kan? Terlebih kita tholabul
‘ilmi, lebih bijak rasanya jika menghindari kegiatan-kegiatan seperti itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar