20 Maret 2012

Jahannam, 300 km Lagi



Dikisahkan oleh seorang pemuda yang dulu lalai dari mengingat Allah Ta’ala dan tidak  pernah berniat dalam dirinya untuk satu ketaatanpun pada Allah, sekalipun untuk sholat.

“Kami sekelompok pemuda yang lalai dalam mengingat Allah pergi menuju kota Dammam. Saat itu kami melewati petunjuk jalan yang bertuliskan “Dammam, 300 km” tetapi aku melihat tulisan itu bertuliskan “Jahannam,300 km”. 

Teman-temankupun menertawakanku. Aku bersumpah, tetapi mereka tak percaya. 

Selang berapa waktu, kami melewati petunjuk jalan yang lain. Teman-temanku berkata ”Dammam, 200 km”, aku tetap membacanya sebagai “Jahannam, 200 km” merekapun menertawakanku lagi dan berkata: ”Diamlah, kamu membuat kami takut”. 

Akupun diam dalam keadaan heran. Aku diam dalam kesusahan sedangkan mereka dalam gelak tawa dan candaan. Hingga kami bertemu dengan petunjuk jalan selanjutnya, mereka berkata: “sebentar lagi Dammam,100 km”. Aku yang heran mengatakan ‘Demi Allah Yang Maha Agung, aku melihatnya “Jahannam, 100 km”!!”

“Hentikan berdusta! Kamu telah menyakiti kami sejak awal perjalanan kita,” teman-temanku marah.

Kukatakan, “Turunkan saja aku, aku ingin kembali.”

Mereka berkata, ”Apa kamu sudah gila?”

“Turunkan aku. Demi Allah aku tidak ingin menyelesaikan perjalanan ini bersama kalian.” 

Merekapun menurunkanku, aku berjalan ke arah lain. Aku menghentikan sebuah mobil, di dalamnya ada seorang sopir yang sudah tua. Dia dalam keadaan diam dan sedih. Akupun bertanya, “Ada apa dengan Anda? Kenapa Anda tidak berkata-kata?”

“Aku baru saja menyaksikan sebuah kecelakaan yang sangat tragis, demi Allah aku belum pernah melihat yang lebih parah dari ini seumur hidupku”.

“Apakah mereka 1 keluarga?” tanyaku.

“Mereka adalah sekumpulan anak muda, tidak ada seorangpun yang selamat. Maka ia pun menyebutkan ciri-ciri mobilnya dan aku mengenali bahwa mereka adalah teman-temanku. Aku meminta bapak itu untuk bersumpah atas apa yang telah ia katakan,  dan iapun melakukannya. Akupun memuji Allah yang telah memberikan tanda sehingga aku bisa selamat dan menjadikan pelajaran bagi aku dan yang lain .”


Ya akhwat, apa kita harus menunggu kehilangan sahabat kita sampai ke perjalanan seperti di atas? Agar kita bisa mengambil pelajaran darinya? Tahukah kamu bahwa kadang bukan kita yang bertaubat setelah kematian teman-teman kita, melainkan kitalah yang menjadi sebab pertaubatan teman-teman kita karena kematian kita di atas maksiat dan kerusakan. Na’udzubillah.

Ya Allah, jangan jadikan kami sebagai pelajaran bagi manusia, tetapi jadikanlah kami sebagai orang yang mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada mereka, dan dari apa saja yang terjadi di sekitar kami. Allahuma amin.

Diringkas dari suatu artikel pada majalah Qiblati edisi 05/tahun III Februari 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar