Tampilkan postingan dengan label Mikrosop Power Point. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mikrosop Power Point. Tampilkan semua postingan

10 Agustus 2013

20 Maret 2012

Jahannam, 300 km Lagi



Dikisahkan oleh seorang pemuda yang dulu lalai dari mengingat Allah Ta’ala dan tidak  pernah berniat dalam dirinya untuk satu ketaatanpun pada Allah, sekalipun untuk sholat.

“Kami sekelompok pemuda yang lalai dalam mengingat Allah pergi menuju kota Dammam. Saat itu kami melewati petunjuk jalan yang bertuliskan “Dammam, 300 km” tetapi aku melihat tulisan itu bertuliskan “Jahannam,300 km”. 

Teman-temankupun menertawakanku. Aku bersumpah, tetapi mereka tak percaya. 

Selang berapa waktu, kami melewati petunjuk jalan yang lain. Teman-temanku berkata ”Dammam, 200 km”, aku tetap membacanya sebagai “Jahannam, 200 km” merekapun menertawakanku lagi dan berkata: ”Diamlah, kamu membuat kami takut”. 

Akupun diam dalam keadaan heran. Aku diam dalam kesusahan sedangkan mereka dalam gelak tawa dan candaan. Hingga kami bertemu dengan petunjuk jalan selanjutnya, mereka berkata: “sebentar lagi Dammam,100 km”. Aku yang heran mengatakan ‘Demi Allah Yang Maha Agung, aku melihatnya “Jahannam, 100 km”!!”

“Hentikan berdusta! Kamu telah menyakiti kami sejak awal perjalanan kita,” teman-temanku marah.

Kukatakan, “Turunkan saja aku, aku ingin kembali.”

Mereka berkata, ”Apa kamu sudah gila?”

“Turunkan aku. Demi Allah aku tidak ingin menyelesaikan perjalanan ini bersama kalian.” 

Merekapun menurunkanku, aku berjalan ke arah lain. Aku menghentikan sebuah mobil, di dalamnya ada seorang sopir yang sudah tua. Dia dalam keadaan diam dan sedih. Akupun bertanya, “Ada apa dengan Anda? Kenapa Anda tidak berkata-kata?”

“Aku baru saja menyaksikan sebuah kecelakaan yang sangat tragis, demi Allah aku belum pernah melihat yang lebih parah dari ini seumur hidupku”.

“Apakah mereka 1 keluarga?” tanyaku.

“Mereka adalah sekumpulan anak muda, tidak ada seorangpun yang selamat. Maka ia pun menyebutkan ciri-ciri mobilnya dan aku mengenali bahwa mereka adalah teman-temanku. Aku meminta bapak itu untuk bersumpah atas apa yang telah ia katakan,  dan iapun melakukannya. Akupun memuji Allah yang telah memberikan tanda sehingga aku bisa selamat dan menjadikan pelajaran bagi aku dan yang lain .”


Ya akhwat, apa kita harus menunggu kehilangan sahabat kita sampai ke perjalanan seperti di atas? Agar kita bisa mengambil pelajaran darinya? Tahukah kamu bahwa kadang bukan kita yang bertaubat setelah kematian teman-teman kita, melainkan kitalah yang menjadi sebab pertaubatan teman-teman kita karena kematian kita di atas maksiat dan kerusakan. Na’udzubillah.

Ya Allah, jangan jadikan kami sebagai pelajaran bagi manusia, tetapi jadikanlah kami sebagai orang yang mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada mereka, dan dari apa saja yang terjadi di sekitar kami. Allahuma amin.

Diringkas dari suatu artikel pada majalah Qiblati edisi 05/tahun III Februari 2008

10 Oktober 2011

Bersama Siapakah Kita Nanti? Will Smith? Conan? Naruto? Atau Shia LaBeouf?


Na’udzubillahi min dzalik. Di bawah ini ada sedikit uraian sebuah hadits yang kami ulas bersama Ust. Subhi pada hari Jum’at (08/04/11) lalu.

عن عبد الله بن عمر- رضي الله عنه- قال: "قال رسول الله- صلى الله عليه و سلم- : "المرأ مع من أحب" أخرجه البخاري

Ya, seseorang akan bersama orang yang dicintainya, orang yang diidolakan olehnya. Hadits di atas menunjukan adanya anjuran untuk menguatkan cinta kepada Nabi - صلى الله عليه و سلم-- dan juga umatnya sesuai dengan martabatnya. Karena hubungan antara orang yang mencintai atau saling mencintai sebagai dalil atas adanya keterikatan. Jika ada yang menyukai seseorang, maka dia akan terikat dengannya dan jelas mengidolakannya. Apalagi jika dia tak henti memikirkan dan membicarakannya sesering mungkin, di dunia saja susah lepas dari ikatan itu, apalagi nanti di akhirat?

Seseorang itu dilihat dari segala temannya. Perumpamannya seperti pilihan antara memilih teman seorang tukang minyak wangi atau pandai besi. Tukang minyak wangi diumpamakan sebagai teman yang baik, walaupun kita tidak membeli, minimal kita akan mendapat colekannya. Bahkan jika tidak dicolek sekalipun, minimal kita bisa cium wanginya. Sedangkan pandai besi kita umpamakan sebagai teman yang membawa pengaruh buruk, bukan hanya bau pengap api dan arang saja yang bias kita dapat darinya, bahkan jika kita mendekat bisa-bisa baju kita ikut terbakar. Jadi, akan bersama siapakah kita sekarang dan esok?

Salah seorang sahabat Nabi- صلى الله عليه و سلم-  pernah menyebutkan deretan nama sahabat yang ia cintai, dan di akhir kalimatnya ia menambahkan: “aku mencintai mereka dan aku ingin dihisab serta dikumpulkan bersama mereka walaupun amalanku sangat jauh dari amalan mereka.


Sebagaimana firman Allah  تعا لى :

و من يطع الله و الرسو ل فأ لئك مع الذين أانعم الله عليهم من النبيين و الصديقين و الشهداء و الصا لحين و حسن ألئك رفيقا (النساء:69)

 “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dab Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Q. S. An-Nisa: 69)

Maka jangan sampai mengaku mencintai Rosul tetapi berbuat syirik, menyanyikan lagu yang menyanjung Rosul secara berlebihan. Jangan sampai kita membenci hijab, jenggot, dan makan-minum dengan cara yang tidak dianjurkan. Dan malah mengidolakan orang-orang kufar. Mari kita pikir sekali lagi, mana yang lebih sering antara membicarakan Rosululloh- صلى الله عليه و سلم-   atau Justin Bieber? Mana yang sering dijadikan bahan obrolan oleh kita, para Sahabat yang mulia atau Suju?

“Jangan cuma ngaku-ngaku, kita ini umat pengekor yang sukanya mengikuti tradisi orang kafir yang sedang ngetren,” begitu yang Ust. Subhi katakan. Melakukan hal yang dilakukan artis yang kita sukai. Mengenakan pakaian yang dikenakan oleh artis kesukaan kita. Dan membicarakan mereka tanpa henti. Kalau dipikir-pikir, ngapain juga kita mikirin dan ngomongin artis-artis yang sudah jelas nggak mikirin dan ngomongin kita, ya kan? Terlebih kita tholabul ‘ilmi, lebih bijak rasanya jika menghindari kegiatan-kegiatan seperti itu.

16 Mei 2011

Perempuan



Tulisan ini kami buat untuk perempuan. Di sini kita akan sedikit berbicara mengenai kita, mengenai perempuan. Tapi tentu tidak ada salahnya jika ada laki-laki yang ingin membaca tulisan ini, kami harap dia bisa memperlakukan perempuan dengan baik.

Perempuan itu diambil dari tulang rusuk laki-laki. Jika Allah mempersatukan dua orang yang berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi sesuatu yang saling melengkapi.

Kita sebagai perempuan adalah penolong yang sepadan bagi laki-laki, bukan sparing patner yang sepadan. Ketika pertandingan dimulai, kita tidak berhadapan dengan laki-laki untuk melawannya. Tetapi kita akan berada bersama mereka untuk berjaga di belakang mereka. Kitalah yang seharusnya menutupi kekurangan mereka.

Kita ada untuk melengkapi apa yang tidak ada dalam laki-laki: perasaan, kelemah lembutan, keluwesan, kecantikan, rahim untuk melahirkan bibit muslim, dan mengurusi hal sepele. Hingga ketika laki-laki tidak mengerti hal itu, kitalah yang bisa menyelesaikannya. Sehingga tanpa mereka sadari, ketika mereka menghabiskan sisa hidupnya bersama kita, mereka menjadi lebih kuat karena kehadiran kita di samping mereka.

Jika ada makhluk yang kontras dengan laki-laki, itulah perempuan, itulah kita. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya dengan senyuman, itulah perempuan. Bukan Bisma Sm*sh apalagi personel Suju, tapi kita.

Kita kadang tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki, tapi kadang kita butuh rasa jaminan aman dari mereka karena kita ada untuk dilindungi. Tidak hanya secara fisik, tapi juga emosi.

Kita kadang kurang tertarik dengan fakta-fakta yang akurat, atau bahasa yang teliti dan logis yang biasa disampaikan secara detail oleh laki-laki. Tetapi yang kita butuhkan adalah perhatian dan kalimat yang lembut, yang mungkin dianggap sepele oleh kebanyakan laki-laki, tapi cukup berarti bagi kita sehingga bisa membuat kita nyaman.

Batu yang keras bisa terkikis habis oleh air yang luwes, sifat laki-laki yang keras bisa ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yang lembut tidak mudah tumbang ketika ada badai, justru pohon yang besar dan rindang yang mudah tumbang. Seperti juga dalam kelembutan itu, di situlah terletak kekuatan dan ketahanan yang membuat kita bertahan dalam banyak situasi. Karena kita lembut bukan untuk diinjak. Rumput yang lembut justru akan dinaungi oleh pohon besar yang kokoh nan rindang. Jika laki-laki berpikir tentang perasaan perempuan atau yang lainnya, itu hanya sepersekian dari hidupnya. Namun, jika perempuan mulai memikirkan perasaan laki-laki atau yang lainnya, hal itu bisa menyita hampir seluruh hidupnya, karena sifat perempuan adalah perasa.

Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki dan merupakan bagian dari mereka. Maka apa yang menjadi bagian dari hidup kita, akan menjadi bagian dari hidup mereka. Karena sifat perempuan yang perasa, maka ketika kita harus meninggalkan keluarga kita kelak dan ikut bersama seorang laki-laki, ikatan emosi terhadap keluarga bisa menjadi perasaan mereka juga. Karena kita dan mereka tentu harus bersatu. Karena kita adalah diri mereka yang tidak ada sebelumnya. Maka ketika pertandingan dimulai, pastikan kita ada di tim yang sama dengan mereka.

Semoga tulisan ini bermanfaat, sehinggga membuat kita sebagai perempuan bisa berpikir positif tentang diri kita sendiri. Tidak berpikir bahwa kita ini makhluk yang lemah dan tolol, tapi mencoba merasakan kelembutan hati dalam diri kita. Tidak lagi menganggap diri bak beruk, tapi terus berusaha seberuntung Fathimah atau ‘Aisyah. Dan bagi kaum Adam, semoga tulisan ini  bisa membuat mereka memperlakukan kaum Hawa (baik itu istri, anak, atau saudaranya) dengan baik.

Baarokallahufiikunna =)

Isti Fath
Kelas 10 A